Kadang aku merasa untuk mendapatkan sesuatu itu sifatnya 'harus'.
Sampai kini ego itu masih saja menjadi beban bagi diriku sendiri, dan tentunya orang lain yang pernah merasakan dampak dari ego itu.
Tetapi kalau mau berpikir jernih, sedikit tambah bersabar, ternyata sesuatu yang terlihat 'harus' itu menjadi 'tidak selalu harus'.
Langkah terberat adalah ketika mencoba menggeser perspektif itu.
Yang pasti, terberat bukan berarti tidak bisa.
Semoga aku selau diberi pikiran jernih, untuk melegakan hati, menepis ego ini.
Amien...
Semakin mantap Husni melewati hari-harinya. Semakin lengkap sudah ia merasakan nikmat hidupnya. Semenjak Joe mengatakan kalau cinta Liz hanya untuk Husni, seolah jantung pria kerempeng itu membengkak, dipenuhi bunga-bunga cinta. Selain itu dukungan dari teman-teman menyatakan bahwa Husni sebaiknya melanjutkan hubungan ini ke tahapan lebih serius menjadikannya lebih optimis menghadapi masa depannya. Menapaki hari seolah di atas pelangi, warna-warni indah sekali. Ow ow…..
Suatu petang seperti biasa, Husni berfutsal ria bersama teman-teman mantan se-kantornya dulu. Tiba-tiba Iyun, wartawan sebuah media cetak di kotanya mendekati Husni dan memberikan selamat.
“Selamat ya. Akhirnya kamu akan segera menikahi Liz. Aku sama sekali tak menyangka. Luar biasa lhp, Sob.”
Sontak teman-teman yang lain pada kaget dan memberikan ucapan yang sama ke Husni.
“Yang bener? Kenapa nggak dari dulu sih?” Argo, cowok tambun yang sexy itu tertawa sambil menepuk bahu Husni.
“Woi Husni...selamat ya. Aku tak menyangka selama ini di antara kalian telah bersemi biduk-biduk cinta. Aku turut senang mendengarnya. Resepsi mau di mana nih?” Adhi, cowok keturunan Arab itu terlihat ceria memberikan selamat kepada patner kerjanya itu.
Husni hanya tersenyum simpul. Di hatinya semakin bermekaran bunga-bunga cintanya kepada Liz.
“Ternyata teman-temanku mendukung. Ya sudahlah, apa mau di kata? Aku lebih yakin sekarang. Ya Tuhan, berilah anugerahmu selalu kepadaku dan Liz.” Doanya dalam hati dengan tulus. Hmmm....akhirnya....:-)
Husni melatih kekasihnya belajar main futsal. Kalau yang begini tentu bukan sembarang futsal. Istilahnya apa ya? Entahlah. Pastinya hati pria kurus yang rajin berolahraga itu berbunga-bunga sepanjang sesi latihan. Apalagi, saat ini pikirannya terfokus pada bagaimana mengembalikan masa-masa romantis dengan seseorang yang sangat dicintainya, dan sempat menghilang beberapa saat, karena cemburu dan kurang yakin, bahwa ia akan menjadi miliknya, selamanya.
“Peraturannya beda jauh nggak sih sama football yang sebenarnya? Ada bedanya?” Liz bertanya kepada Husni pada saru sesi latihan sore itu. Jantung Husni berdegup, merasa sedikit bangga.
“Futsal lebih fleksibel sih, peraturan standard saja yang perlu diinget, seperti handsball, itu sudah pasti, santai saja okay?” Perempuan dengan tubuh berisi itu tersenyum. Jantung Husni berdetak lebih cepat.
“Kenapa sih kamu suka futsal? Yang nonton banyak cewek-cewek ya?” Olala....Liz cemburu tampaknya. Dahi Husni mendadak berkeringat.
“Emh, enggaklah. Futsal kan olahraga yang mementingkan teamwork. Lagian seneng saja, ketemu teman-teman lama, sekalian reuni dan sehat. Di sana full cowok-cowok kok, nggak ada ceweknya. Kamu mau ikut?” Liz mengerjapkan mata sejenak.
“Boleh?” tanyanya berharap. Di sudut hati Husni tiba-tiba bermekaran bunga aneka warna, luar biasa harum baunya.
“Ya bolehlah.” Bibir pria yang nge-fans tim setan merah itu tersenyum senang.
“Tapi...Jack ikut nggak?” pertanyaan Liz begitu pelan nadanya, tetapi mata Husni menjadi gelap seketika. Jantungnya bergejolak tak beraturan. Nafasnya sesak tertahan. Ingatannya kembali ke masa ketika Jack dan Liz pernah dekat, menyisakan cemburu yang amat dahsyat berkecamuk di benaknya. Ingin rasanya saat itu ia memutar kembali roda waktu beberapa detik ke belakang, supaya Liz tak pernah menanyakan JACK pada waktu hatinya sedang senang dan bahagia seperti ini.
“Hei....kok malah diem?” Liz mengelus bahu Husni pelan. Husni tergagap.
“Eh sori..ehm, Jack? Oh dia, dia nggak ikut.” Jawab Husni singkat, sedikit merutuk.
“Oh ya sudah. Kalau gitu aku ikut ya nanti, kabari aku kalau kamu futsal. Jangan lupa, kalau tak keberatan, kamu bisa menjemput aku kan ke rumah?”
Suara Liz berapi-api. Suara yang membuat Husni tak berdaya menolak pesona perempuan yang saat ini mengisi hatinya itu. Semoga mulai hari ini akan menjadi semakin indah seterusnya, Tuhan....doanya dalam hati.*
Perasaan itu tiba-tiba saja adanya.
Begitu senang, dan hanya senang, mengetahui kau masih ada, di sana.
Ketika kau menghilang, sungguh..aku benar-benar kehilangan, dan kosong.
Seperti gelas tak berisi.
Aku sadar terlalu dini untuk mengatakan semua ini padamu.
Dan aku hanya berharap, kau tahu, mengerti apa yang kurasakan.
Pun kalau ini hanya perasaan sesaat, sungguh, aku tak akan pernah menyesalinya.
Tetapi apabila kau juga merasakannya,
Demi Tuhan, aku sangat menyukuri anugerah indah yang Kau berikan saat ini.
Entah apa yang terjadi, karena aku merasa senang, happy……
Seperti kata-kata yang terus kausampaikan padaku,
Bahwa kau selalu baik-baik saja, dan selalu…..
Sama sekali tak pernah terlintas dalam benak Husni, bahwa dengan nyata senyata-nyatanya, Liz telah menyakiti hatinya. Di depan matanya, ia melihat laki-laki kerempeng dan tidak lebih tampan darinya itu bercanda ria dengan perempuan yang beberapa bulan ini mengisi hatinya. Entah apa maksudnya, yang jelas ada perasaan menyesak teramat dalam di lubuk hati terdalam Husni.
“Mungkin aku salah tidak pernah mengatakan kepadamu, bahwa hati ini sudah kaumiliki. Tapi apakah selalu harus semua itu dengan cara mengatakan? Tidakkah kau bisa merasakan?” Jerit hati Husni menahan sakit. Ia ingat hari-hari ketika Liz masih membutuhkannya untuk melewatkan hari, sebagai tempat curhat, dan teman di kala sedih. Sangat jelas terngiang kata-kata Liz di suatu sore, di ruangannya.
“SOri ya, kalau selama ini kamu menjadi tempat curhatku. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Bahkan aku merasa, kamu seolah sudah menjadi bagian dari hidupku.”
Seandainya ada petir di siang hari saat itu, mungkin akan kalah suara dengan kencangnya degup jantung laki-laki low profile itu. Arrghhh…..dan sekarang semua sirna, setelah kedatangan laki-laki ‘entah’ yang seminggu ini menggantikan posisinya menempati kebersamaanya dengan Liz.
Apakah itu sebuah pengkhianatan? Atau bukan? Entahlah, yang jelas ada seseorang yang merasa tersakiti, tersingkir. Ada yang bilang “jangan suka main api, nanti bisa terbakar, begitu juga dengan hati, janganlah dimainin”. Alamakk…..dalam pertemanan saja seandainya kita dikesampingkan begitu ada yang lain, rasanya sungguh sakit. Apalagi kalau tiap-tiapnya main hati, bisa perih. Husni, sebaiknya kauungkaplah isi hati, biar dia mengerti, bahwa hal itu sudah menyakitimu. Tapi kalau memang ia sengaja main hati, keputusannya ada di kamu, menerimanya, membalasnya, atau mengenyahkannya. Tentukan
Kembali ada pelajaran kehidupan buat aku secara pribadi.
Bahwa sebisa mungkin kita mencoba berbuat baik kepada orang lain, karena kita menginginkan hal yang sama, bahkan lebih.
Itu saja kadang kita mendapat balasan yang tidak sesuai.
Apalagi kalu berlaku negatif, efeknya selain ke orang lain, ke diri kita.
Salah satunya adalah ketidakpercayaan orang lain pada kita.
Menyedihkan.
Jarak bisa membuat kita merasa jauh dari seseorang,
Entah itu dalam perasaan tentang sesuatu,
Atau kebiasaan komunikasi, yang terhalang oleh sesuatu.
Tak Jarang hal seperti bisa memunculkan praduga,
Bahwa kita punya rasa curiga, berkurang percaya.
Tapi kalau keyakinan itu ada,
Semua akan terlewati dengan apapun.
Saya termasuk orang yang tidak cukup banyak mempunyai waktu menonton acara televisi swasta nasional. Beberapa alasan saya antara lain; karena tayangan yang ada kurang mendidik, terlalu banyak penjiplakan, dan sekedar menghibur tanpa membuat orang tergelitik untuk mencari makna edkatif di balik tayangan tersebut.
Kalau memang harus menonton, saya lebih menyukai tayangan berita dan sport. Karena menurut saya lebih menghibur dan menantang. Dengan keluarga Saya memfilter diri dengan berlangganan TV Kabel, karena kita bisa memilih tayangan yang lebih bermutu, dalam beberapa hal.
Salah satu hal yang semakin memicu saya untuk semakin peduli pada tayangan-tayangan bermutu adalah juga karena tempat kerja saya sangat konsen untuk selalu menyuarakan mengenai pentingnya pendidikan media. Apalagi kalau hal ini diterapkan pada anak-anak, sedari dini.
Selain judul lagu lama dari New Kids on The Blocks, title ini mengingatkanku pada bad habitku sendiri. Semasa kuliah, paling sebel waktu mengisi KRS (katu rencana studi), karena banyak banget berkas yang harus diisi. Aku bukan orang yang rapi di administrasi, karena aku sendiri termasuk orang yang tidak begitu suka keteraturan, tetapi lebih suka sesuatu yang indah, dinamis, nyeni. Tetapi bukan berarti jorok lho.
Masa mengisi KRS adalah bagian paling meresahkan, karena harus memilah berkas-berkas segambreng itu, mengisinya, dan menatanya kembali, menyerahkan ke bagian tata usaha. Belum harus meminta tanda tangan dosen wali segala. Walah! Hal pertama tersulit adalah memulainya. Untung aku punya teman yang baik hati, mendampingiku, mendorong semangatku, namanya Nining. Dia tak sampai hati memandang juteknya tampangku. Katanya: Ri, kalau nggak dijalanin ya selamanya ngebetein. Sudahlah, mulai saja satu per satu, lama-lama kan kelar juga. Daripada bete HANYA memandang kertas-kertas berserakan seperti itu.
Wewww......emberrr. Semenjak itu aku tak malas lagi. Seperti saat pekerjaan sedang menumpuk, laporan segabreg harus dikerjakan,pada satu waktu. Semua harus dijalanin, satu per satu, lama-lama selesai juga. Memang....yang paling sulit itu memulainya:-)

Dear pembaca,
Kami mengadakan acara Pemilihan Puteri Indonesia 2009 Tingkat Jawa Tengah dengan final show pada Minggu, 13 September 2009, Pukul 19.00 WIB.
Pendaftaran peserta dimulai hingga 31 Agustus 2009. Persyaratan peserta:
1.WNI, domisili di Jawa Tengah (KTP)
2. Umur 18-25 Tahun
3. Belum Menikah
4. Tinggi badan minimal 162 cm.
Silahkan kalau ada rekanan,atau Anda ingin mendaftar, harap hubungi sekretariat panitia:
Anton Production
Semarang Indah E/ X-9 Semarang
Tlp (024) 7623938
HP 024 70556 148 dan 081 575 170599
Terima kasih.
Alhamdulillah...
Event Borobudur Travel Mart (BTM) 2009 akhirnya rampung. Sarat pengalaman sebagai event organizer yang turut serta di dalamnya, sengan segenap upaya, supaya tidak mengecewakan.
Kesan mendalam juga disampaikan perwakilan peserta BTM dari Philipina, sewaktu acara pelepasan di Restoran Pondok Daun, Kompleks Pantai Marina, Semarang. Meski sederhana, farewell party yang dihadiri seluruh peserta BTM terdiri atas trader, investor, dan wisatawan lokal serta asing cukup menjadi kesan bagi siapa yang hadir malam itu. Ya ya ya...semoga investasi di Jawa Tengah semakin bertambah di kemudian hari.
Terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu lancarnya acara ini. Sampai jumpa tahun depan.

Borobudur Travel Mart (BTM) adalah salah satu rangkaian acara dalam Borobudur International Festival (BIF) yang diselenggarakan pada 16-20 Juli 2009.
Borobudur Travel Mart merupakan pameran wisata dan travel di Seluruh Indonesia, dilaksanakan pada Sabtu, 18 Juli 2009, di Hotel Gumaya, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Acara ini diikuti buyers dan sellers dari negara-negara asing (Hongkong, Malaysia, India, SIngapura) dan investor serta traders lokal dari seluruh Indonesia.
Acara ini bertujuan menyemarakkan prospek wisata dan perdagangan di Jawa Tengah dan Semarang pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Rangkaian acara Borobudur International Festival juga diharapkan bisa membuat Borobudur kembali harum namanya di kancah Internasional.
Habis lihat foto jaman dulu, jadi nyadar kalau perlahan perubahan itu melingkupi diriku. Geli kalau ingat jaman SD, aku begitu pemalu. Masuk SMP aku dikenal dengan gadis pemalu, pintar, disukai teman cowokku yang nakal, tampan dan terkenal playboy, tetapi aku justru naksir adik kelasku. Padahal, aku sama sekali tak tahu, apa sih makna cintaaaaa? Setahuku aku hanya suka melihat Irwan, adik kelasku yang akhirnya juga menyukaiku. Bah! Cinta monyet macam apa ini hahaha..
Begitu SMA, aku malah menjadi pelopor tukang bolos di kelas, karena mayoritas teman cewekku kutu buku, maklum anak Fisika kan begitu. Jaman kuliah aku begitu tomboy, tak kenal make up, dandan metal. Jins belel, kaos oblong, rambut cepak, gaya sok cool (malah kesannya jadi judes dan galak). Kaos saja nggak ada yang model feminim, semua ala cowok, oblong. Kuliah jarang pakai sepatu, kecuali dosennya killer. Seminggu sekali pasti nonton konser music. Sampai nggak peduli malam pun diniatin, lompat pagar juga pernah beberapa kali. Untung punya sepupu dan teman-temannya yang mau ngejagain kalau nonton music di malam hari. Maklum suka ada tawuran di luar lokasi konser.
Tapi seiring perkembangan umur, jelang skripsi, semua berubah. Aku menjadi feminim. Memanjangkan rambut, lebih rapi, lebih peduli dengan lingkungan sekitar, tak pelit menebar senyum, care dengan teman yang mampir ke kost, suka merawat diri. Sepertinya itu berlanjut sampai sekarang. Meski kombinasi di antara style sebelumnya itu tetap ada. Misalnya meski aku suka pakai rok, tapi seneng bola, suka nonton F1, seneng music slow rock, keras, usil, suka otomotif berbau sport, tapi suka juga memasak. Parahnya lagi sering nangis kalau dikerjain, apalagi kalau nyangkut hati. Hahaha….
Maafkan aku ya, Ri.
AKu hanya bisa tersenyum karena cukup mengerti,
bahkan jauh hari sebelum kalimat itu terucap dari bibir kamu.
Meski sebenarnya aku tak tahu,
apakah kalimat itu cukup pantas terucap, di saat ini.
Sepenuhnya aku yakin bahwa tak ada yang bisa lebih aku harapkan,
dari awal sudah aku sampaikan.
Bukannya aku menang,
dan tak mau munafik untuk mengatakan,
bahwa aku tak suka.
Tetapi sekali lagi,
bahwa aku cukup punya hati untuk dicintai,
bukan untuk membenci.
I have climbed the highest mountains
I have run through the fields
Only to be with you
Only to be with you
I have run I have crawled
I have scaled these city walls
Only to be with you
But I still haven't found
What I'm looking for
But I still haven't found
What I'm looking for
I have kissed honey lips
Felt the healing in her fingertips
It burned like fire
This burning desire
I have spoke with the tongue of angels
I have held the hand of a devil
It was warm in the night
I was cold as a stone
But I still haven't found
What I'm looking for
But I still haven't found
What I'm looking for
I believe in the Kingdom Come
Then all the colors will bleed into one
But yes I'm still running.
You broke the bonds
You loosened the chains
You carried the cross
And my shame
And my shame
You know I believed it
But I still haven't found
What I'm looking for
But I still haven't found
What I'm looking for

Tak ada yang mengesankan dari perjalanan ke Jogja waktu itu, seandainya dari awal tidak ada motivasi istimewa dari Andy untuk meberikan surprise buat Liz. Sampai hari inipun masih terbayang jelas hadiah kaos berlogo Manchester United kesayangan, hadiah ultah dari perempuan yang selalu mengusik hatinya itu. Sudah lama pria botak itu menerka-nerka balasan hadiah yang diinginkan Liz. Sampai kemudian pertanyaan itu terjawab ketika ia ngobrol dengan Liz.
“Batik Jogja bagus ga sih?” Andy memancing pembicaraan.
“Bagus banget, murah-murah lagi. Trus di sana juga update model. Kamu mau belikan aku?” Mata Liz mengerling menggoda pria yang suka motor sport itu. Jantung Andy terkesiap.
“Emang kamu suka?” tanya Andi setengah bergetar gugup. Liz tersenyum simpul.
“Ya sukalah. Apalagi kalau buat tidur. Kan batik ada yang adem juga tuh. Kamu mau ke Jogja apa?”
“Ya lihat nanti.” Jawab Andy singkat. Hatinya berbunga-bunga senang dan penuh harap.
***
Dan akhirnya Jumat sore, Andy, Juan, Riri, Heli, Erna dan Indra pergi ke Jogja. Tujuan utama sih menghadiri acara perkawinan teman, sekalian mencari barang-barang untuk keperluan pribadi. Setelah menghadiri resepsi, berenam mereka ke Malioboro untuk membeli keperluan masing-masing. Hampir 2 jam keliling berpencar Erna menelepon memberitahu kalau sudah menunggu di mobil dan siap untuk perjalanan berikutnya. Riri, Heli dan Juan bergegas menuju ke tempat parkir. Ternyata Andy dan Rif belum juga nongol sampai hampir setengah jam kemudian. Beberapa kali ditelepon bilangnya sedang otw ke parkiran. Lama banget. Sampai akhirya dari kejauhan yang ditunggu-tunggu muncul. Andy menenteng tas kertas yang di dalamnya ada belanjaan.
“Uh la la....belanja toh. Apaan tuh?” Riry penasaran. Andy tersenyum penuh arti.
“Apaan sih?” Juan tak kalah penasarannya.
“Ada deh....” Andy masih senyam-senyum tak jelas. Ya sudah, daripada kecewa mendingan diam dan masuk lagi ke mobil. Giliran Erna nyetir sampai di Kasongan, surga buat orang yang sangat menyukai gerabah untuk interior rumah. Sementara itu Andy tampak tersenyum sumringah di samping Rif yang juga ikut berbahagia. Melihat kelakuan mereka, Juan mendelik curiga.
“Hayo, kalian menyembunyikan sesuatu ya?” tanyanya menyelidik. Rif tertawa terbahak-bahak.
“Enggak kok enggak. Tuh, Andy yang lagi seneng banget hari ini. Ups...” Rif menutup mulutnya tanda telah kelepasan ngomong. Andy sontak menginjak kakinya keras hingga ia menjerit tertahan.
“Kamu beli oleh-oleh apa sih?” Kembali Juan mendesak Andy untuk mengaku. Pria yang hari itu berkaos hitam menggeleng-gelengkan kepala. Juan merebut tas kertas dari pegangan Andy. Kontan muka Andy merah padam dibuatnya. Juan tak sabar membuka bungkusan plastik putih dari dalam tas. Matanya membelalak lebar melihat barang yang dibeli Andy.
“Dasterrr?? Buat siapa? Seksi banget lagi, ada tali kecil di pundak.” Juan bertanya setengah menggumam. Matanya nanar mengamati daster warna pink berukuran jumbo di tangannya. Rif tersenyum-senyum simpul.
“Kok kamu tertawa, Rif? Kamu tahu ya buat siapa daster batik adem itu?” Riri ikutan nyeletuk.
“Tanya Andy dong. Kan dia yang beli. Aku sih cuman milihin model aja.” Rif menjawab sambil tersenyum-senyum menyebalkan. Di sampingnya muka Andy sudah tak keruan. Antara malu, senang, takut karena harus menjelaskan, dan nervous. Juan masih memegang-megang daster itu. Matanya melirik ke Andy setengah kesal karena tak kunjung ada jawaban ke luar dari mulutnya.
Hmm...setahu Juan sih nggak ada cewek yang didekatin Andy saat ini. Ia orang nomor satu tempat curhat Andy. Jadi, seharusnya ia tahu, siapa cewek yang dihadiahi daster oleh Andy. Tapi yang ini? Dalam hati ia berharap, mudah-mudahan Andy memberikannya pada perempuan yang tepat. Ya ya ya....semoga*

Tidak menyakiti,
Melainkan berbagi kasih
Mengerti, memahami dengan sepenuh hati
Berani meminta dan memberinya maaf
Dengan segenap toleransi,
Bukan untuk mengulang kesalahan yang sama
Saling mencintai itu membebaskan..
Apabila menyenangkan keduanya
Bukan salah satu menjadi senang dan tertawa
Sementara di sisi lain, ada seseorang terluka
Terabaikan...
Masihkan bisa kita mengecap makna ‘saling mencintai’?
Yang sangat berbeda artinya dengan...
Aku mencintai,
Atau kamu mencintai?

“Dit, aku nggak pernah tahu ada apa sebenarnya dengan Joey. Dia tak pernah mengenalkan aku pada teman-temannya. Sebaliknya, aku sangat terbuka padanya. Kalau aku tanya dia selalu beralasan, teman-temannya beda dengan lingkunganku, yang sangat terbuka, dan bisa menerima segala perbedaan, apa adanya. Tapi benarkah hanya itu alasannya? Mungkinkah dia malu mengenalkan bahwa aku pasangannya? Mungkinkah dia takut, ada masa lalunya yang bisa jadi terungkap, apabila aku mengenal teman-temannya? Ataukah ada alasan lain yang aku tak tahu? Apakah aku salah?” mata Heidy tak berbohong ketika dia begitu berharap mendapat jawaban atas pertanyaannya. Sahabatnya, Dity tak bergeming, die menepuk pundak sahabatnya perlahan.
“Dy, yang tahu alasan sebenarnya adalah Joey. Kalau aku menjadi kamu, mungkin akupun bersikap sama. Tapi sudahlah. Kalau sudah beberapa kali hal itu kamu sampaikan padanya dan tak ada perubahan, mau apa? Kamu sudah berusaha. Selanjutnya? Kalau kamu tetap pada role yang berjalan, Tuhan akan kasih yang terbaik atas sikapmu itu. Bisa jadi semua pertanyaanmu itu tadi tak salah, dan sangat wajar. Nikmatilah harimu, Dy. Karena yang bisa membuat kamu bahagia adalah diri kamu, bukan siapapun. Karena diri kamu adalah milik kamu seutuhnya. Semoga saja Joey sadar dan mengerti. Kalau toh pun tidak, dia tahu apa yang sebenarnya telah ia lakukan padamu. Bahwa itu membuat kamu tersiksa, membuat kamu berjalan seperti di awang-awang, kadang curiga, cemburu, dan lainnya. Suatu saat dia akan memahami.”
Green light, seven eleven
You stop in for a pack of cigarettes
You don’t smoke, don’t even want to
I see you check your change
Dressed up like a car crash
The wheels are turning byt you’re upside down
You say when he hits you, you don’t mind
Because when he hurts you, you feel alive
Is that what it is?
Red lights, grey morning
You stumble out of a hole in the ground
A vampire or a victim
It depend’s on who’s around
You used to stay in to watch the adverts
You could lip synch to the talk shows
And if you look, you look through me
And if you talk it’s not to me
And when I touch you, you don’t feel a thing
If I could stay... then the night would give you up
Stay, and the day would keep it’s trust
Stay, and the night would be enough
Faraway, so close
Up with the static and the radio
With satelite television
You can go anywhere
Miami, new orleans, london, belfast and berlin
And if you listen I can’t call
And if you jump, you just might fall
And if you shout I’ll only hear you
If I could stay... then the night would give you up
Stay then the day would keep it’s trust
Stay with the demons you drowned
Stay with the spirit I found
Stay and the night would be enough
Three o’clock in the morning
It’s quiet and there’s no one around
Just the bang and the clatter
As an angel runs to ground
Just the bang and the clatter
As an angel hits the ground


